Review Film Inside Out

Source image : movies.disney.id/inside-out

 

Lagi – lagi Pixar membuat sebuah film yang kembali memanjakan para penikmat film di dunia. Ya benar, apa lagi kalau bukan film Inside Out. Film ini adalah produksi dari studio ternama Pixar Animation studio di Amerika Serikat.

Film ini menceritakan perjalanan emosi (kebahagiaan, kesedihan, rasa takut , dan kemarahan) seorang remaja yang di gambarkan dengan bentuk karakter- karakter lucu. Inside Out yang di sutradarai oleh Pete Docter ini kabarnya berhasil menjadi film animasi terpopuler dan laris di tahun ini, bagaimana tidak? Pendapatan yang dihasilkan dari seluruh bioskop di dunia mencapai Rp 1,3 triliun rupiah. Ya, tentu itu sebanding dengan kerja keras yang di lalu selama 6 tahun. Hmm.. Lama banget ya >,<

Film yang bagus tentu tidak luput dari review yang bagus pula, seperti apa komentar dari masyarakat Indonesia? Kali ini saya mencoba mencolek beberapa teman – teman dari industry animasi Indonesia untuk berkomentar soal film Inside Out ini, seperti apa komentar mereka let’s check this out :

  1. Julis Eka Kurniawan, Assisten Supervisor Animation Department
    “Kalau ditanya gimana komentar gue, gue suka bgt sama jalan ceritanya, dan overall sama looksnya. Looks setiap karakter itu gak terlalu keliatan clean, outer line setiap karakter kayak ada kunang kunang yang melayang keluar gitu.”
  1. Eka Apriliani, Production Coordinator
    “Dari 1-10 gw kasih 8,5 buat film ini. Filmnya bagus, gw gak nemu kekurangannya an, cuma gemes sama si sadnessnya, hahaha.. Lava songnya bagus, terus ceritanya juga oke, terutama pas dia mau minggat, gue suka banget.”
  1. Adhi Hargo, IT Programmer
    “Ada dua lapis cerita dalam film ini, tentang respon Riley akan kepindahan keluarganya ke San Francisco, dan bagaimana setiap karakter emosinya berinteraksi, terus-menerus mengusahakan keseimbangan dalam “ruang kendali” emosi Riley.
    – Plot Riley sangat sederhana karena berfungsi sebagai landasan bagi mekanisme plot utamanya tentang Joy dan emosi2 lain, tapi keduanya terjalin dengan konsisten, dengan simpul di ujung yang sangat mengesankan. Penutup cerita akan lebih emosional jika kita temukan sisa-sisa kenangan masa kecil kita sendiri di sepanjang perjalanan Joy. Aku menemukan sedikit paralel, dan itu saja membuat film ini sulit dilupakan.
    – Plot Joy dkk. berjalan cepat dan, meski tidak terlalu kompleks, berisi banyak persimpangan dan tikungan yang diluar dugaan meski terkait erat dengan plot Riley. Tidak ada elemen cerita yang sia-sia; beberapa hal yang kukira cuma bahan humor singkat di awal, ternyata berperan dramatis dalam kelanjutan cerita. Benak Riley pun diwujudkan dalam gambar dan suara yang imajinatif, dan menjadi sebagian besar sumber humor dalam film ini. Yang mengagumkan buatku adalah, bagaimana Pixar mendasarkan berbagai pokok dalam ceritanya dari beragam riset psikologi seperti sifat dan pembagian jenis ingatan, aspek-aspek kepribadian sebagai pulau-pulau yang muncul dan tenggelam, bagaimana otak mendekonstruksi informasi visual, dst. dan masih bisa merangkai semuanya dalam satu plot yang tidak terkesan asal tempel, koheren, bahkan emosional. Komedi dan melankoli dihadirkan silih berganti dalam film ini, seringkali dari momen-momen yang tidak mudah ditebak.”
  1. Agnes Kartika, Light & render Artist
    “Filmnya recommended, ceritanya bagus cocok banget buat keluarga, jadi lebih tau tetang emosi manusia. Dari regi render lighting samua cakep kok. Approved lah, hahaha..”
  1. Adyprimot Papua , EFX artist
    “Pengemasan ceritanya sangat bagus. Seperti biasa khas Pixar. Saya melihat keunikan untuk render karakter2 tersebut, dimana kulit mereka seakan-akan memiliki samar2. Menggambarkan bagai pemikiran atau emosi yang hidup.”
  1. Fierrany Halita, Illustrator
    “Kalau menurutku sih, dari segi ide konsep and story udah oke banget, soalnya unik dan out of the box gitu. Konsepnya juga deket dengan kehidupan sehari-hari kita. Karena setiap orang kan ngalamin dan punya emosi. Tapi kalau dari segi visual artnya menurutku kurang, mungkin karena film – film sebelumnya lebih banyak referesi dari real world tapi karena inside out itu bukan real world jadi referensinya susah didapat dibandingkan film pixar sebelumnya. Tapi overall si oke banget, haha..”

Hahaha.. Ternyata dari review yang ada mereka cukup terhibur dengan film animasi Pixar yang satu ini. Eiits, jangan beranjak dulu, dibawah ini saya akan berikan salah satu contoh video pembuatan 3D modeling karakter “Anger” yang di buat ulang oleh Andri Viyono seorang 3D modeller dengan menggunakan software blender.

 

 

Hmm.. Dari video di atas terbayangkan kalau untuk memproduksi sebuah animation movie itu tidaklah mudah, hehe.. Oke, sekian dulu tulisan saya kali ini, semoga cukup memberikan banyak informasi untuk kamu, dan sampai jumpa di review film selanjutnya 😀

Andria

Iklan

8 comments

  1. Saya sepakat sama Fierrany Halita (#6), “Tapi kalau dari segi visual artnya menurutku kurang, mungkin karena film – film sebelumnya lebih banyak referesi dari real world tapi karena inside out itu bukan real world jadi referensinya susah didapat dibandingkan film pixar sebelumnya.”

    Trima kasih reviewnya mbak. Salam.

    Suka

  2. Saya ketika menonton ini, tidak berpikir apa-apa. Seperti ketika melihat minion.
    Bayangan saya, ya udah ini lucu.

    Tapi setelah melihat, saya tidak menyangka ide sesederhana itu bisa dibikin film dengan cukup sukses.

    Saya sih suka. Psikologi sederhana.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s